Padan jaman dahulu kala, menurut sejarah yang menyertai perkembangan tanah Jawa Dwipa, hiduplah orang bijak yang bernama Sunan Bonang. Beliau mengajarkan ajaran-ajaranya melalui tembang dalam bentuk bahasa Jawa yang sangat sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat Jawa pada saat itu. Kalau tidak salah ingat seperti ini bunyi syairnya.
“Lir ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh kemanten anyar
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodo iro
Dodo iro, dodo iro
kumitir bedahing pinggir
domdomona jlumatono kanggo sebo mengko sore
mumpung gede rembulane
mumpung jembar kalangane
yo sorak ooooo, sorak hiyooo”
Dari beberapa baris syair diatas, yang hanya terdiri dari beberapa rangkaian ungkapan-ungkapan sederhana, ternyata mempunyai makna yang sangat mendalam.
Lir-ilir, lir ilir tandure wis sumilir : sebuah ungkapan yang kalau diartikan tanaman yang mulai tumbuh subur yang digambarkan dengan tak ijo royo-royo (berwarna hijau subur) untuk memenuhi kehidupan baru atau menempuh hidup baru (tak sengguh kemanten anyar).
Yang kira-kira begini artinya, pada saat itu keadaan masyarakat jawa mengalami suatu kemunduran peradapan, dalam kehidupan sehari-hari selalu tidak lepas dengan yang namanya mo limo (5 Mo). Adanya kabar baru (lir-ilir) yang bisa membangunkan sendi-sendi kehidupan (tandure wis sumilir), kabar baru tersebut yang bisa membawa suasana sehari-hari dalam kecerahan (ijo royo-royo). Kabar yang bagaimana yang bisa membawa masyarkat jawa saat itu? yaitu suatu ajaran yang menyebutkan 2 kalimat syahadat (syahadatain) atau dalam syair tersebut di gambarkan kemanten. Dengan diawali dengan mengucap syahadatain untuk mengawali jalan selamat yang membawa kedalam kecerahan Islamiah.
Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi, berupa himbauan kepada semua saja untuk menggapai ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW, walaupun harus melalui jalan terjal tetap harus digapai demi tercapai kesucian jiwa (kanggo mbasuh dodo iro).
Dodo iro, dodo iro, kumitir bedahing pinggir, domdomona jlumatono kanggo sebo mengko sore : setelah dada kita dibersihkan (jiwa bersih dari segala nafsu angkara), pencerahan jiwa yang dimulai hal-hal yang kecil dan setiap hari kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah jiwa kita bersih dan terbersihkan dengan air wudhu mulailah untuk menghadap untuk bersujud terhadap Sang Khalik (sebo mengko sore)
Dengan hadirnya suatu ajaran yang mebawa kecerahan, maka hai manusia sadarlah telah datang pencerahan kepadamu (mumpung gede rembulane) telah datang kemaslahatan fidunya wal akhirah (mumpung jembar kalangane), maka bisa bahagia sejahtera, tata tentrem kerto raharjo (sorak horee)
kira2 demikia, mohon masukannya jika ada kesalahan

Falsafah yang mendalam….wah, jebule sampeyan siiip juga ya menulis macam begini……
Mas, dudu “dodo iro”, ananging “dodot ira”. tegese jarit sing digawe nutupi awak. Mungguh filsafate klambi sing “bedhah ing pinggir” kudu didondomi dijlumati (dijahit) supaya becik maneh. Kanggo ndondomi apa? ya agama Islam, agama sing kena kanggo “seba mengko sore” tegese kanggo sangune mati. Nuwun
matur nuwun mbah Brata, meniko kulo nembe ngangsu kawruh, mbok bilih wonten ular-ular malih ingkang saget dipun dadosaken ayem ipun manah,… mbok monggo dipun bagi-bagi…..
sepindah melih, ngatur aken maewu – ewu matur nuwun
Alhamdulillah, ternyata kamu bisa memadukan antara filsafat jawa – islam.
kulo nuwon mas…sebenarnya tembang lirilir iu berasal dari mana n siapa pencipta sebenarnya, sunan giri or sunan kalijogo, ada yang tau gak???.;-)
kulo nuwon mas…sebenarnya tembang lirilir itu berasal dari mana n siapa pencipta sebenarnya, sunan giri or sunan kalijogo, ada yang tau gak???matur suwun.;-)
Tak pikir, tembang iku gak weruh sopo sing, taping percayane wong akeh, jare karangane sunan kalijogo. Taping gak ono bukti sing negeske.
Oya, kebeneran aku iki tukang ngarang tembang sing gak terkenal babar pisan.
Forum Ilir2e mas Ari iki apik, yen bisa dienggo kangge metani tembang2 sing apik.
Yen gak diseneni, aku tak sering mampir. Kesuwun masArr…
Pendidikan di Indonesia harusnya ditanamkan tentang “philosophy” khususnya filsafat-filsafat leluhur yang agung.
Tulisan panjenengan bisa memberikan pencerahan kepada semua yang baca. Tolong dibahaskan tentang istilah/kalimat “Jamane Jaman Edan, Yen Ora Melu Edan Ora Keduman”.
Spurane suwe merantau basa Jawane “ngalor-ngidul”
Matur nuwun sakdurunge
Sing lagi terus belajar,
ag_sulis