Ngenthung di Bulan Romadhon

Ngenthung kedengaranya asing di telinga, namun begitulah enaknya bikin suatu topik tulisan, yang asing buat pemirsanya. Ngenthung itu diambil dari bahasa jawa dengan lingga (kata dasar) enthung dan mendapat panambang (imbuhan) berupa Nga kalau di gabungkan menjadi nga+enthung lebur menjadi ngenthung.

Mari kita uraikan secara sakleg dulu arti kata dari ngenthung.

  • Enthung = itu adalah nama binatang dalam hal ini ulat (coro jowone Uler) yang sudah mengalami metamorfosis bentuk.
  • Ngentung = adalah suatu perubahan dari bentuk kata dasar yang telah mendapat imbuhan “Nga” yang memberikan arti beda pada kata dasar yang melekat padanya. Singkatnya begini memberikan arti kerja pada enthung itu sendiri.

Jadi Ngenthung adalah melakukan pekerjaan seperti enthung, begitu kira penjabaran yang tidak jabar.

Nah kembali kepada topik, Ngenthung di Bulan Romadhon memiliki arti melakukan kerjaan seperti enthung dalam hal ini puasa untuk peleburan segala angkara murka sebelum bulan romadhon. Dengan mengambil falsafah enthung diharapkan kita ini yang manusia dilengkapi dengan segala kelengkapannya, dan memiliki nilai lebih hingga tak terhingga dibandingkan dengan enthung harusnya mampu untuk lebih memaknai bulan Romadhon lebih mendalam.

Enthung adalah suatu penjelmaan dari yang namanya Uler, nah tahukan bagaimana sifatnya uler itu sendiri. Uler itu mempunyai bentuk yang nuwun sewu yahh jelek tur nggegilani, dan ada sebagian jenis yang bisa membikin orang yang mendekat jadi gatel-gatel semua. Nah kalo dilihat dari sifatnya semasa jadi uler, yak ampun betapa rakusnya tuh uler. Dia makan apa saja yang ada hingga habis tak tersisa. Sampai manusia dibikin jengkel olehnya hingga keluar produk yang racun hama.

Analogi kepada manusia, nah kira begitulah sifat manusia kebanyakan pada saat ini (mungkin saya juga termasuk di dalamnya). Apapun dimakan habis oleh yang namanya manusia. Pasir, aspal, gunung, besi, batu, minyak dll sebagainya, pokonya jika bisa di makan dimakan. Dengan menggunakan aji mumpung dan dengan dilengkapi sebuah rapalan sakti “mumpung isih kontal di ulu yo diuntal wae“. Nah pada masa-masa ini manusia itu masih selevel dengan yang namanya uler.

Enthung, suatu fase metamorfosis untuk lebih mendekatkan diri dengan Sang Akaryo Jagad. Melalui Puasa dan perenungan diri selama 41 hari, si enthung memohon dengan kesungguhan sama yang Mbaurekso Urip atas segala perbuatannya selama menjadi uler. Polah tingkah enthung selama dalam penemuan jati dirinya hanya bisa menutup diri dalam balutan daun-daun kering ala kadarnya dan hanya bisa menggerakan kepalanya saja, malah kalau permohonannya tidak bener apa yg diharapkan untuk mejadi lebih baik belum kesampaian eeeee, tahu-tahu dibuat mainan oleh anak-anak. Dengan di pegangin sambil di teriakin ” enthung- enthung endi elor- endi kidul”. Dalam situasi diujung tanduk tersebut si enthung masih manggut-manggut sambil memohon untuk di ijabahi semua permintaanya. Kalo tulus dan ikhlas dia mintanya, maka kupu-kupulah ujudnya dan madu sebagai makananya, namun jika sebaliknya maka maut akan menjemputnya ” selain dijadikan mainan, juga di jadikan umpam pancing atau buta makanan ayam”

Pada bulan romadhon ini manusia, yang dikenal sebagai makhluk berbudi bowo leksono mampukah untuk ngenthung selama satu bulan penuh. Dengan semakin medekatkan diri pada Illahi Robbi dan ngeker babahan howo songo meredam segala yang sesuatu perbuatan yang di bisikkan oleh Iblis laknatullah. Jika selama sebulan penuh manusia mampu menemukan jati dirinya dalam hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Penciptanya, manusia akan mengalami masa metamorfose dalam kehidupan jiwa yang lebih menyejukkan. Perbuatannya setelah romadhon menyerupai kupu-kupu. Yang dimakan adalah makanan yang baik (halal), dimana dia berada selalu memberikan bantuan siapa yang didekatnya, dimana dia berada selalu menambah keindahan.

Ataukahhh selama Bulan Romadhon ini masih menggunakan ngelmunya si uler, dan menggunakan rapalan aji mumpung ?………………… wis sak karepmu, dirimu menungso di wenehi pikiran yo di enggo mikir ojo di enggo hiasan tok. wis yoo sesuk di sambung maneh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s