Kidung Rasa

Dikala malam ku tiba, hatiku mulai mendendangkan gurindam rindu akan dirimu. Rindu yang tertanam oleh pesona-pesona senyummu, dan yang tersusun apik oleh deretetan abjad-abjad yang menebarkan pesona cinta. Dikala malam menjelang dirimu menjelma menjadi bulan. Bulan dengan sinar kuning teduh, yang melambangkan kesejukan wajahmu. Dikala pagi menjelang kau menjelma menjadi mentari, mentari yang mampu menyinari panorama hati. Dikala bulan tak menampakan diri engkau menjelma menjadi bintang. Bintang yang bisa mejadi pelita dalam gulita hati.Disaat aku seorang diri, menengadah ketepian langit gubug renta yang tak bertepi. Kau tampakkan senyum manis seraya mengikuti arah perjalananku di negeri yang tak pernah kujamah, baik kujamah dalam mimpi atau dalam alam sadar. Kau ibarat tongkat yang mampu mengarahkan orang buta, kemana harus melangkah, kapan harus berhenti dan kapang harus menata hati.Disaat ku pejamkan mata kau menjelma dalam mimpi hati yang mampu memberi imagi dikala mentari menyembul dari kaki langit di ufuk timur. Kau menjelma bagai bidadari berselendang dua belas yang mampu mendatangkan dua belas rasa dalam delapan puluh mimpi asa.Disaat aku terjaga dari lenaku, kau menjelma sebagai sosok yang mampu menghadirkan pesona taman nirwana. Celotehmu mampu menghentakan sukma rasa yang sedang gandrung akan bidadari isana. Candamu mampu riangkan hati yang sedang kasamaran akan keelokan senyum isana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s