Mata Diri di Dini Hari

Malam yang panjang membawaku dalam lamunan panjang yang berujung. Aku sadar bila kantuk berat sudah menghantuiku dan mataku meneriakan kata ” aku sudah capek, kenapa dirimu egois dan tidak memperhatikanku?”. AKu sadar aku butuh kata-kata yang bisa menghibur diriku. Kata yang terangkai tanpa susunan bahasa yang sempurna, namun bisa menghadirkan makna dalam alam sadarku. Kumulai dengan bait-bait prosa yang tersusun ala kadarnya,…… yah memang ala kadarnya……. namun sudah cukup untuku

Dini hari ini ku tak sadarkan diri

tak sadar kalo diri ini tak bisa tuk tak sadarkan diri

diriku tak tahu kenapa diri ini

ini dini hari ku coba lagi tuk baringkan semua kesadaran diri

Kurebak sekali lagi ruang sadarku

sadarku mulai mengaduk relung sadar hingga tak berujung

ujung sadar yang menggelayut berat di kelopak mataku

kelopak mataku yang hampir lelah dalam adukan relung

Ku ulang tuk membaca guratan prosa yang ala kadarnya, semakin kubaca semakin resah aku memikirkannya. Yah ternyata aku sadar guratan itu hanya menambahkan daftar pertanyaan yang harus ku jawab, entah besok, lusa atau besok lusa. Wahai kawanku yang menemaniku, mari bantu aku, temukan aku, dalam aku. Fajar tinggal beberapa menit lagi menyingsing kemudian disusul mentari pagi.

Yah sekarang akan kupaksa untuk melenakan barang beberapa menit, kuharap esok pagi cerah. Dan akan kulihat dunia dengan dua mataku walau sebagian dunia memicingkan sebelah matanya untuku, akan kumulai melangkah dengan pijakan yang harus aku buat untuk titik tolak untuk melompat.

Dengan mengucap “Niat ingsun anggegolek wewahyuning diri saking Gusti Kang Akaryo Jagat, Bismillahi ta’ala, laqaula wala quata illa billah, Allahu Akbar“.

11 thoughts on “Mata Diri di Dini Hari

  1. lah dalah tak pikir kasih komen tentang opo je…..
    jebulnya tanya, punya template apa enggak …..
    kwek kwek kwek …..

  2. Salam kenal mas ari……..

    ternyata mas ari orangnya puitis juga ya…….
    aku baru tau kalo mas ari bisa sepuitis itu,padahal dilihat dari perjalanan hidupnya mas ari tidak pernah belajar sastra,tapi puitis banget,gimana critanya mas………..?

  3. wah ya gak bisa dilukiskan dengan kata-kata, yang diupload dalam blog.
    Bisa ne mung di rasa wae, njur kaya kie jadinya….
    pengin belajar kaya kuee,…kudu poso patang puuh dino sakjerone sasi suro……:D

  4. Wah,………yo rekoso tenan yo mas,…..
    jebule ra gampang yo…….
    iso gawe kata kata sing puitis yo kudu puasa mbiring….
    he he he he ………………

  5. Jika kau menginginkan kebahagiaan…
    untuk sejam ——— tidurlah selama itu
    untuk sehari ——— pergilah untuk memancing
    untuk sebulan ——- menikahlah
    untuk setahun ——- warisi harta
    untuk seumur hidup — tolonglah orang lain.

  6. wehehehe…….
    Yo Gpp alih profesi, jangan pegang palu saja nohh, sekali waktu ya bikin kayak ginian juga di halalkan kok

  7. hehehe … salam buat mas Arie.
    Bagus tu puisinya… hmm lembura ya mas nulisnya mpe pagi gitu
    Semangat mas ayo semgangat terus tuk membuka mata walau dipicingkan terasanya…..
    Maju tak gentar jangan pantang menyerah…

  8. @ gitamargita
    to bu margi, saya ndak tau termasuk dalam kategori sastra puisi apa bukan, wong saya sekedar menulis kok. kalo bu margi ada temen yang dari sastra minta tolong dong untuk meng- apresiasi tulisan yang asal nulis tsb. matur nuwunn.

    @ mrtajib
    duhhh,….ternyatanya ada titik2nya yahh, perlu di isi apa enggak yah titik2nya tsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s