Alon-alon Waton Kelakon

Apa yang tergambar dalam benak anda semua tentang nasehat kuno dari simbah-simbah kita dulu, seperti yang tercetak tebal dalam judul ini ? ….

Alon-alon waton kelakon,…

sesaat saya terlalu berapriori dengan peribahasa jawa ini, namun setelah cari beberapa literatur saya temukan makna yang terkandung di dalamnya. Mari kita uraikan satu persatu kata-kata yang menyusun peribahasa tersebut :

Alon-alon = pelan-pelan, bertahap

Waton, disini kata kunci dari salah tafsir terhadap peribahasa tersebut, “waton” selama ini kita artikan dengan “asal”. Padahal waton berasal dari kata “wewaton” yang berarti “acuan” atau “prosedur”.

Kelakon = tercapai, biasanya mengacu pada tujuan atau Goal

Penafsiran terhadap peribahasa tersebut selama ini adalah “pelan-pelan asal selamat”, arti tersebut jika diterapkan pada konsep berusaha pada seorang enterprenuer akan sangat kurang tepat, karena akan menghambat sebuah penetrasi kreatifitas dalam menciptakan peluang bisnis. Penafsiran tersebut akan sangat tepat dipakai pada saat anda berlalu-lintas di jalan raya, bahkan banyak saya jumpai di jalan-jalan yang menggunakan peribahasa tersebut sebagai slogan untuk mengurangi angka kecelakaan dalam berlalu-lintas, maklum saat ini jalan raya sudah mulai berubah fungsi sebagai ajang adu gengsi pemillik kendaraan bermotor. Dengan ngebut sekencang-kencangnya demi sebuah pujian motornya paling hebat atau paling enggak pengemudinya jago ngebut. Tidak mengapa itu sisi positif yang bisa diambil dari salah penafsiran peribahasa tersebut, namun efek negatifnya mendidik manusia yang diwarisi peribahasa tersebut untuk bersantai-santai tanpa mau bekerja lebih keras sedikit. Yang terjadi saat ini budaya menyalahkan penyedia lapangan kerja terhadap masalah pengangguran. Padahal kenyataan dilapangan yang banyak kita jumpai  adalah sebuah budaya malas bekerja keras, atau maunya kerja kantoran yang mengenakan. he he he he bener enggak yahhh (belum diadakan penelitian sihhhh).

Coba kita mengalihkan ke penafsiran yang diharapkan oleh simbah-simbah kita yang sebenarnya, alon-alon wewaton kelakon. Jika di-Indonesiakan menjadi, mengerjakan sesuatu dengan cara bertahap berdasarkan pada tujuan yang telah ditentukan. Nah disini kelihatan maksut dan tujuan sebenarnya yang terkandung dalam peripabahasa tersebut. Suatu kerjaan apapun dan dimanapun harus dilakukan melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan, atau bahasa kerennya Standar Operating Prosedur (SOP).

Di dalam pembuatan SOP (Wewaton)  tentunya mengacu pada Goal bersama (Kelakon), jika konsep ini kita lakukan maka akan tercipta suatu hasil akhir (produk) yang mempunyai kualitas bagus. Produk yang bagus itu yang bagaimana, tentunya produk yang telah melalui tahapan quality control dan diterima dengan nyaman oleh pengguna produk.

Nah…

disini bisa dikatakan bahwa simbah kita telah mengenal konsep terpopuler saat ini dalam dunia managemen, yaitu konsepnya Kaizen dan JIT yang semua mengacu ke jepang. Hmmm …. sungguh ironis sekali, kalau simbah-simbah kita saja sudah menanamkan konsep tersebut berpuluh-puluh tahun yang lalu, kenyataannya kok kita masih begini-begini saja.

Apanya yang salah kira-kira yahhhh ? …

6 thoughts on “Alon-alon Waton Kelakon

  1. menurutku,itu bukan ajakan untuk melakukan sesuatu/bekerja dengan sangat lamban. mungkin maksud dari peribahasa itu, kerjakanlah sesuatu sesuai prosedur yang berlaku,jangan grusah grusuh, jangan potong kompas,jangan melakukan bypass. lebih tepatnya,kita harus memperhatikan proses.jangan menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai.
    bener ga ya?

  2. Ya….kita sadar atau tidak sadar bahwa dalam kehidupan sudah ada dari jaman nenek moyang kita, salah satunya seperti yang diuraikan mas Ari Subowo tersebut. Namun, kadang generasi peneruslah yang kadang salah menafsirkan makna kata-kata nenek moyang kita, apa karena saking banyaknya ilmu tafsir apa memang manusia sekarang sudah kebingungan mencari ide-ide penafsiran?

  3. # kang ciepoel
    ya begitulah kira2 yang dimaksut simbah buyut kita dulu

    # mbak fa
    he he he, protesnya sudah di akomodir, silakan di coba lagi yaaa

    # kang dariman
    wah wah, saya juga perlu ngangsu kawruh lagi karo sampean mas. terutama budaya ne anak-anak sekarang, yang menurut sampean dah banyak berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s