Subo Suto

Subo suto adalah sopan santun, toto kromo, unggah-ungguh atau akhlak. Subo suto saat ini mulai hilang tertelan jaman karena pengaruh budaya-budaya yang menghilangkan kepribadian ketimuran.

Hilangnya subo suto ini menjadi bahan yang sangat laris di media massa. Anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, bapak memperkosa anaknya, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Subo suto atau akhlaq hilang di mulai dari lingkungan terkecil dalam masyrakat yaitu keluarga. Mengapa hal ini bisa terjadi, ada beberpa hal yang perlu di cermati, yang paling menonjol adalah pendidikan kepada anak.

Dulu pendidikan anak bisa di percayakan kepada sekolah, madrasah atau tempat-tempat belajar yang lain. Namun seiring modernisasi ada pergeseran fungsi di tempat belajar. Yaitu sekolah mulai beralih fungsi menjadi media pengajaran saja. Sedangkan fungsi pendidikan bergeser dari sekolah ke keluarga.

Namun pergeseran tersebut berbarengan dengan yang namanya era informasi global, mewabahnya sinetron di kalangan keluarga, mewabahnya situs jejaring sosial dan mewabahnya media informasi yang canggih (seperti handphone)

apa hendak dikata, melalui media-media tersebut saat ini anak-anak, calon orang tua memanfaatkan media-media tersebut sebagai sarana mengobati rasa keingintahuan tanpa melakukan filterisasi terhadap informasi yang masuk.

Akhirnya terjadilah proses hilangnya subo suto, unggah-ungguh yang sesuai dengan lingkungan dimana dia berada.

Banyak anak-anak sekarang yang mulai mempertanyakan kelogisan nasehat orang tua, tanpa mencari tahu maksut nasehat itu apa. Akhiranya budaya logislah yang menjadi trend anak-anak era teknologi informasi.

Dan orang-orang tua yang memang dididik dan dibesarkan pada jaman ” ora ilok “, bisanya hanya mengelus dada dan termenung sambil menangis dalam hati. Karena kebingunganya terhadapa apa yang terjadi saat ini (khsusnya terhadap anak cucunya).

Dulu, pada saat orang tua kita masih muda, tertanam budaya yang namanya ora ilok, yaitu suatu larangan terhadap sesuatu yang melenceng dari subo suto, unggah-ungguh, akhlak. Memang dalam menyampaikan nasehatnya kurang jelas, kenapa ORA ILOK.

Namun efek dari  Ora ilok ini sungguh luar biasa, dari situ budaya unggah ungguh, sopan santun, subo suto dalam lingkungan kemasyarakatan sangat hebat. Yang muda menghormati yang tua, yang tua meyayangi yang muda, anak-anak rajin ngaji, masyarakat juga rajin jamaah di masjid atau langgar, gotong royong di lingkungan rt rw, kekerabatan sangat terjalin pada saat itu.

Kalau semua bisa memahami subo suto, Insya Allah, yang ada adalah Ayem Tentrem, gemah ripah loh jinawi.

3 thoughts on “Subo Suto

  1. Salam kenal,ya pak Arie maunya orang tua seperti itu,masih adanya sopan santun.Tapi lingkungan pergaulan,sinetron dll sangat kuat mempengaruinya.Yah…..asal tidak kebangetan
    rasanya masih bisa ditolerir.Mungkin memang jaman yg sdh
    berubah,apa lagi dengan adanya kemajuan IT sekarang ini.
    http:/winartiandayani.wordpress.com

  2. weh…iyo kang saiki toto kromo mulai ilang
    jane olehe mulang anakke yo wis podo bener tapi krn pengaruh jaman yo tetp wae rokel..he..he..

    salam pak Ary…kunjungan balik ya dari koncomu sing nang perantuan

  3. @ Mbak Win, ya yang perlu jadi catatan bagi para orang tua,.. adalah selalu waspada, dan eling.

    @ Pak Budi,.. siap Pak,.. bentar lagi tak mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s