Nyekar dan Nyadran

Tradisi menjelang Bulan Romadhon, biasaya masyarakat melakukan tadisi Nyekar dan Nyadran. Tadisi tersebut sangat kental dilakukan oleh masyarakat Jawa. Banyak yang memperdebatkan mengenai hukum dari tradisi tersebut, namun yang hendak saya sampaikan melalui tulisan ini adalah bukan dari sisi pertentangannya, namun apa sih makna filosofis dari tradisi Nyekar dan Nyadran.

Nyekar ke makam leluluhur sebelum Bulan Romadhon adalah suatu aktivitas kirim doa ke arwah leluhur agar di ampunkan segala dosa semasa hidupnya oleh Sang Penguasa Alam.

Nah ubo rampe (perlengkapan) nyekar itu ya bunga, sesuai dengan namanya Nyekar. Nyekar berasal dari kata dasar (linggo) Sekar artinya kembang atau bunga. Yang namanya bunga biasanya harum baunya, apalagi kalo bunga yang digunakan untuk nyekar. Harapan dari hal tersebut adalah agar para generasi penerus baik anak, mantu, cucu, cicit mampu meneruskan yang segala yang baik-baik dari arwah leluhur.

Bunga yang biasa digunakan untuk nyekar yang paling umum adalah bunga kanthil, kenanga, dan mawar atau melati.

Bunga Kanthil

Dalam bahasa jawa di kenal dengan Jarwo dosok, Kanthil (Tansah Kumanthil), (Kanthi Laku), dilihat dari arti jarwo dosoknya bunga kanthil

Tansah Kumanthil merupakan pralambang dari arti selalu ingat/eling, apa yang harus diingat, tentunya kalau dikaitkan dengan tradisi nyekar ke makam leluhur ya semua tindak tanduk yang baik dari leluhur semasa hidup. AGar kita-kita yang masih hidup ini selalu berbuat kebajikan yang sesuai dengan tuntunan Agama, dan selalu ingat kalo nantinya semua manusia itu akan mati, mumpung masih hidup perbanyaklah Ibadah dan jauhi larangan-larangan dari-Nya.

Kanthi Laku merupakan pralambang kalau segala hal itu tidadak cukup hanya dengan berdoa saja tapi juga harus dengan lelaku atau usaha.

Bunga Kenanga

Jarwo dosok dari Kenanga adalah Keneng- A, bahasa Indonesianya Gapailah, raihlah. Atau bisa di jarwo dosoki dengan Kenang Ing Angga artinya mengenang segala hal yang baik dari warisan leluhur kita.

Keneng- A, kita mumpung masih hidup diminta untuk menggapai segala keluhuran yang dicapai dari para lelluhur. ya syukur-syukur kita mampu untuk berbuat yang lebih baik.

Kenang Ing Angga, artinya juga tidak terlalu jauh, kita diminta untuk melupakan segala hal yang baik dari para leluhur.

Bunga Mawar/Melati

Biasa kalo tidak ada mawar ya melathi yang digunakan untuk nyekar.

Nah mawar = Awar-awar= Tawar atau Mawi Arsa artinya dengan kehendak hati, Tawar atau  bisa diartikan dengan tulus. memahami nilai luhur dari para leluhur yang sesuai dengan panutan agama harus dengan niat yang tulus.

Melahi = Roso melat soko njero ati yang bisa diartikan dalam bertutur kata harus sesuai dengan hati nurari, jangan beda dimulut beda juga dihati atau munafik.

lha Nyadran ne kepriye ?

Tradisi Nyadran biasanya ada tiga ubo rampe yang selalu ada yaitu apem, kholak dan Ketan.

Apem berasal dari kata afu’an atau afwan yang artinya maaf (ngapuro)

kholak berasal dari kata kholado sebagai lambang kekal

dan ketan dari kata khoto’ atau khotan yang berarti kesalahan

lebih lengkapnya bisa dibaca dalam artikel ini

3 thoughts on “Nyekar dan Nyadran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s