STACK

Suatu ketika ada rekanku yang baik curhat,…..

Di tempat kerjanya mengalami Stack …. , dia merasa bingung karena tidak bisa ngapa-ngapain melihat kondisi di tempat kerjanya. Dia merasa tidak punya akses untuk sedikit memberikan sekedar masukan sebagai sumbangsihnya dalam perusahaan, dia hanya bisa mengerjakan apa yang jadi kesahariannya saja. Namun dengan melihat kondisinya seperti yang dia ceritakan, dia merasa sedih juga.

Mengapa Stack tanyaku,…

“gak taulah jawabnya”

loh kok bisa,  tanyaku lagi,…

“ya begitulah adanya, saat ini”

hmmmmmmm….

Sambil googling,… kucari arti stack …. (he he he),…. maklum bingung juga ngartikannya

Akhirnya ketemu juga artinya,…. Stack artinya tumpukan…..

Dalam aliran data, terdapat istilah LIFO, FIFO, MIMO, weheheh opo maneh kuwi yooo

Tapi yang dia maksut ternyata bukan pemrograman, tapi kondisi tempat kerja yang dari tahun – ketahun mengalami proses declinasi. Owww itu to yang di maksut dalam hatiku. Namun tak apalah, wong kadung menyebut istilah LIFO, FIFO, MIMO jee… tengsinlah kalau tidak dilanjut. (hehehheh)

Ada beberapa hal dari ceritanya yang bisa saya ambil kesimpulan, dalam perusahaannya masih mengadop LIFO atau FIFO.

LIFO (Last In Fisrt Out) dalam perusahaan jika ini dilakukan saat ini memang agak aneh menurut saya,  kalau FIFO (Fisrt In First Out) ini masih agak mending, melakukan pekerjaan sesuai sekala prioritas. Harusnya kedua metode ini harus mulai ditinggalkan.

Saat ini persaingan untuk meningkatkan kualitas perusahaan begitu ketatnya, jadi seberapa banyak data yang mampu diambil dilapangan dan seberapa banyak data yang bisa diolah menjadi sebuah Tujuan dari perusahaan. Intinya adoplah metode MIMO (multiple In multiple Out) begitu kira2. Ditambah mulailah jemput Bola,…… dekati Bola sedekat-dekatnya,… olah bolanya,… gocek kanan, gocek kiri,… giringlah menuju gawang dan jadikanlah Goal.

Kalau masih Stack juga,… mari dimari disharing disini apa kira2 yang jadi kendalanya ….

Advertisements

Nyekar dan Nyadran

Tradisi menjelang Bulan Romadhon, biasaya masyarakat melakukan tadisi Nyekar dan Nyadran. Tadisi tersebut sangat kental dilakukan oleh masyarakat Jawa. Banyak yang memperdebatkan mengenai hukum dari tradisi tersebut, namun yang hendak saya sampaikan melalui tulisan ini adalah bukan dari sisi pertentangannya, namun apa sih makna filosofis dari tradisi Nyekar dan Nyadran.

Nyekar ke makam leluluhur sebelum Bulan Romadhon adalah suatu aktivitas kirim doa ke arwah leluhur agar di ampunkan segala dosa semasa hidupnya oleh Sang Penguasa Alam.

Nah ubo rampe (perlengkapan) nyekar itu ya bunga, sesuai dengan namanya Nyekar. Nyekar berasal dari kata dasar (linggo) Sekar artinya kembang atau bunga. Yang namanya bunga biasanya harum baunya, apalagi kalo bunga yang digunakan untuk nyekar. Harapan dari hal tersebut adalah agar para generasi penerus baik anak, mantu, cucu, cicit mampu meneruskan yang segala yang baik-baik dari arwah leluhur.

Bunga yang biasa digunakan untuk nyekar yang paling umum adalah bunga kanthil, kenanga, dan mawar atau melati.

Bunga Kanthil

Dalam bahasa jawa di kenal dengan Jarwo dosok, Kanthil (Tansah Kumanthil), (Kanthi Laku), dilihat dari arti jarwo dosoknya bunga kanthil

Tansah Kumanthil merupakan pralambang dari arti selalu ingat/eling, apa yang harus diingat, tentunya kalau dikaitkan dengan tradisi nyekar ke makam leluhur ya semua tindak tanduk yang baik dari leluhur semasa hidup. AGar kita-kita yang masih hidup ini selalu berbuat kebajikan yang sesuai dengan tuntunan Agama, dan selalu ingat kalo nantinya semua manusia itu akan mati, mumpung masih hidup perbanyaklah Ibadah dan jauhi larangan-larangan dari-Nya.

Kanthi Laku merupakan pralambang kalau segala hal itu tidadak cukup hanya dengan berdoa saja tapi juga harus dengan lelaku atau usaha.

Bunga Kenanga

Jarwo dosok dari Kenanga adalah Keneng- A, bahasa Indonesianya Gapailah, raihlah. Atau bisa di jarwo dosoki dengan Kenang Ing Angga artinya mengenang segala hal yang baik dari warisan leluhur kita.

Keneng- A, kita mumpung masih hidup diminta untuk menggapai segala keluhuran yang dicapai dari para lelluhur. ya syukur-syukur kita mampu untuk berbuat yang lebih baik.

Kenang Ing Angga, artinya juga tidak terlalu jauh, kita diminta untuk melupakan segala hal yang baik dari para leluhur.

Bunga Mawar/Melati

Biasa kalo tidak ada mawar ya melathi yang digunakan untuk nyekar.

Nah mawar = Awar-awar= Tawar atau Mawi Arsa artinya dengan kehendak hati, Tawar atau  bisa diartikan dengan tulus. memahami nilai luhur dari para leluhur yang sesuai dengan panutan agama harus dengan niat yang tulus.

Melahi = Roso melat soko njero ati yang bisa diartikan dalam bertutur kata harus sesuai dengan hati nurari, jangan beda dimulut beda juga dihati atau munafik.

lha Nyadran ne kepriye ?

Tradisi Nyadran biasanya ada tiga ubo rampe yang selalu ada yaitu apem, kholak dan Ketan.

Apem berasal dari kata afu’an atau afwan yang artinya maaf (ngapuro)

kholak berasal dari kata kholado sebagai lambang kekal

dan ketan dari kata khoto’ atau khotan yang berarti kesalahan

lebih lengkapnya bisa dibaca dalam artikel ini

Subo Suto

Subo suto adalah sopan santun, toto kromo, unggah-ungguh atau akhlak. Subo suto saat ini mulai hilang tertelan jaman karena pengaruh budaya-budaya yang menghilangkan kepribadian ketimuran.

Hilangnya subo suto ini menjadi bahan yang sangat laris di media massa. Anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, bapak memperkosa anaknya, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Subo suto atau akhlaq hilang di mulai dari lingkungan terkecil dalam masyrakat yaitu keluarga. Mengapa hal ini bisa terjadi, ada beberpa hal yang perlu di cermati, yang paling menonjol adalah pendidikan kepada anak.

Dulu pendidikan anak bisa di percayakan kepada sekolah, madrasah atau tempat-tempat belajar yang lain. Namun seiring modernisasi ada pergeseran fungsi di tempat belajar. Yaitu sekolah mulai beralih fungsi menjadi media pengajaran saja. Sedangkan fungsi pendidikan bergeser dari sekolah ke keluarga.

Namun pergeseran tersebut berbarengan dengan yang namanya era informasi global, mewabahnya sinetron di kalangan keluarga, mewabahnya situs jejaring sosial dan mewabahnya media informasi yang canggih (seperti handphone)

apa hendak dikata, melalui media-media tersebut saat ini anak-anak, calon orang tua memanfaatkan media-media tersebut sebagai sarana mengobati rasa keingintahuan tanpa melakukan filterisasi terhadap informasi yang masuk.

Akhirnya terjadilah proses hilangnya subo suto, unggah-ungguh yang sesuai dengan lingkungan dimana dia berada.

Banyak anak-anak sekarang yang mulai mempertanyakan kelogisan nasehat orang tua, tanpa mencari tahu maksut nasehat itu apa. Akhiranya budaya logislah yang menjadi trend anak-anak era teknologi informasi.

Dan orang-orang tua yang memang dididik dan dibesarkan pada jaman ” ora ilok “, bisanya hanya mengelus dada dan termenung sambil menangis dalam hati. Karena kebingunganya terhadapa apa yang terjadi saat ini (khsusnya terhadap anak cucunya).

Dulu, pada saat orang tua kita masih muda, tertanam budaya yang namanya ora ilok, yaitu suatu larangan terhadap sesuatu yang melenceng dari subo suto, unggah-ungguh, akhlak. Memang dalam menyampaikan nasehatnya kurang jelas, kenapa ORA ILOK.

Namun efek dari  Ora ilok ini sungguh luar biasa, dari situ budaya unggah ungguh, sopan santun, subo suto dalam lingkungan kemasyarakatan sangat hebat. Yang muda menghormati yang tua, yang tua meyayangi yang muda, anak-anak rajin ngaji, masyarakat juga rajin jamaah di masjid atau langgar, gotong royong di lingkungan rt rw, kekerabatan sangat terjalin pada saat itu.

Kalau semua bisa memahami subo suto, Insya Allah, yang ada adalah Ayem Tentrem, gemah ripah loh jinawi.

Hampir Pagi

Jalan setapak temarang oleh kilaunya kunang

ku ayunkan setapak demi setapak menggapai hamparan sawah

hanya jenkerik yang berderik-derik mengiringi tapakan kaki  telanjang

semakin banyak kutapakan tapak

semakin banyak bunyi jengkerik yang mengepak-kepakan sayap menguntaikan nada khas malam.

Namun aku harus tetap menapak

Tapakan-tapakan yang mampu menghasilkan nada kehidupan

terus dan terus menapak selaras bunyi jengkerik menderik

Jengkerik mengerik dengan merdunya

menambah aroma tapakan di jalan setapak

jalan setapak yang masih terlihat jauh ujung tapakannya

kutapakan tapakku sampai pagi menjemputku

sampai derikkan jengkerik berganti alunan lagu kutilang