Feed on
Posts
Comments

Dalam dunia bisnis internet service provider ada dua hal pokok yang perlu diperhatikan bagi para pengelola bisnis tersebut. yaitu antara penyedia layanan (pelayan) dan pembeli layanan (customer).

Nah dengan berbekal 2 hal tersebut kita akan memahami 5 W + 1 H dalam menjalankan bisnis tersebut (khsususnya bagi pelaku bisnis). (bersambung)

The Power Of Dream

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.

– Eleanor Roosevelt —

Masa depan adalah milik mereka yang percaya keindahan akan mimpi-mimpi mereka

Suatu malam ku buka telingaku lebar-lebar untuk sekedar mendengarkan bisikan angin malam, angin malam selalu membawakanku sebuah kidung malam. Kidung yang terlantun melalui suara-suara binatang malam dan lagu  bertemakan asmara jati dan jati asmara.

Suatu malam ku dengarkan sebuah bisikan indah melalui telinga hatiku dan aliran asmara melalui aliran darah asamaraku. Aliran asamara yang mengalir dari mata air yang bernama mata air sukmaya hati. Akankah dirimu juga mendengarkan nyanyian belalang malam….???

Nyeyanyian belalang malam yang merdu

Dedaunan malam melambai nan syahdu

Ayunan kaki katak dalam air kerinduan nan gemulai

Rajutan sarang burung menumbuhkan asa berhati

Iringan rasa membentuk guratan syair asa dalam paduan suara malam berasa karsa penuh karsa.

Andai kau tahu …., apa yang selalu diucapkan oleh mulut hatiku ini, akankah telinga hatimu juga akan mendengar, sehingga akan hatimu akan membukakan pintu untuk tamumu ini, dan hatimu akan berucap Assalamu alaikum, yaa umairo……..

Zamrut Kalbu

padang ilalang rasa berakar merimbun sesejuk zamrut karsa

untaian akarpun menancap kuat dalam kalbu rasa

rerimbunan daun rasa ikut memaksa karsa

wewangian bunga asa semerbak memenuhi relung-relung cipta

aroma buah karsa wangi merimbuni untaian akar rasa dalam cita asa

Ku bolak-balikan serpihan hati yang sedang tersebar di sudut-sudut rasaku. Kuamati dan kupilah, kuramu dan kutata ulang hingga membentuk sebuah makna. Makna yang memang susah diterjemahkan dalam sebaitan puisi, di syairkan hingga membentuk sebuah lagu…..

Ohhh…., akankah ada sesuatu yang bisa merajut dan meramu hingga membentuk suatu barisan hatiku dan keterjemahkan dalam lagu kehidupan ku serta kulakon kan dalam drama hatiku yang ……

Yahhh… Padang ilalang itu tumbuh menumbuhi seluruh jiwaku, merimbuni asaku, hingga terbentu suatu semak belukar yang bisa tenggelamkan seluruh jiwaku dalam belukarnya semak. Kuatnya akar menancapkan seluruh serat sukma yang haus akan belaian rasamu. Untaian jiwa yang tak kan pernah pupus dalam mengukir seratan wangi sebuah asaku.

Achh…hatiku selalu berbilang kalo dirimu yang selalu datang. Datang-datang dan selalu kupersilakan untuk duduk manis dalam kursi tamu hati, dan kuletakkan secawan minuman rasa yang selalu setia menanti kehadiranmu.

Yachh…pintu ruang tamu rasaku selalu terbuka untukmu, kapan dirimu akan mendatangi untuk sekedar menengok ruang yang sudah kusediakan.

setiap hari yang kulalui selalu terlintas dibenakku sesuatu yag terus membayangi jiwaku, dan tergambar jelas dipelupuk mataku. Siluet mulai menampakkan rasa yang semakin tumbuh di mayanya kalbu. hiruk pikuknya aliran darahku yang tak beraturan dari serambi rasa hati kiri sampai serambi hati ku yang kanan. Seperti lajunya lintasan kendaraan tanpa ada rambu2 penunjuknya. meluncur deras tanpa ada pengendali, dan melintas melalui relung-relung hati yang tak berlogika. semua logika hilang tak bermakna terhisap oleh derasnya pusaran rasa.

drama rasa memupuk karsa asa nan tampak maya

warna rasa bak permata karsa

iringan warna drama rasa memadu bak pelangi Asa di ujung cakrawala

tarian bidadari isana melenggang penuh daya rasa

Tarian-tarian rasa melenggang-lenggokan logika yang semakin terkoyak. Tercerai berai dengan indahnya rasa yang tertanam indah dalam taman bunga karsa. Bunga-bunga mekar semerbak menyebarkan wewangian parfum rasa. Buah-buah rasa yg semakin menggellayuti pohon-pohon rasa bak permata yang muncul dari pohon rasa.

Kidung Rasa

Mendendang bagai gamelan
Menari bagai tarian kasuari
Menyayat bagai goresan sembilu
Rasa memang tak bisa dicegah, dating dengan sendiri tanpa permisi dan menghujam di ulu hati

dikala malam ku tiba, hatiku mulai mendendangkan gurindam rindu akan dirimu. Rindu yang tertanam oleh pesona-pesona senyummu, dan yang tersusun apik oleh deretetan abjad-abjad yang menebarkan pesona cinta.

Dikala malam menjelang dirimu menjelma menjadi bulan. Bulan dengan sinar kuning teduh, yang melambangkan kesejukan wajahmu. Dikala pagi menjelang kau menjelma menjadi mentari, mentari yang mampu menyinari panorama hati. Dikala bulan tak menampakan diri engkau menjelma menjadi bintang. Bintang yang bisa mejadi pelita dalam gulita hati.

Disaat aku seorang diri, menengadah ketepian langit gubug renta yang tak bertepi. Kau tampakkan senyum manis seraya mengikuti arah perjalananku di negeri yang tak pernah kujamah, baik kujamah dalam mimpi atau dalam alam sadar. Kau ibarat tongkat yang mampu mengarahkan orang buta, kemana harus melangkah, kapan harus berhenti dan kapang harus menata hati.

Disaat ku pejamkan mata kau menjelma dalam mimpi hati yang mampu memberi imagi dikala mentari menyembul dari kaki langit di ufuk timur. Kau menjelma bagai bidadari berselendang dua belas yang mampu mendatangkan dua belas rasa dalam delapan puluh mimpi asa.

Disaat aku terjaga dari lenaku, kau menjelma sebagai sosok yang mampu menghadirkan pesona taman nirwana. Celotehmu mampu menghentakan sukma rasa yang sedang gandrung akan bidadari isana. Candamu mampu riangkan hati yang sedang kasamaran akan keelokan senyum isana.

Sekapur Sirih

Malam yang panjang membawaku dalam lamunan panjang yang berujung. Aku sadar bila kantuk berat sudah menghantuiku dan mataku meneriakan kata ” aku sudah capek, kenapa dirimu egois dan tidak memperhatikanku?”. AKu sadar aku butuh kata-kata yang bisa menghibur diriku. Kata yang terangkai tanpa susunan bahasa yang sempurna, namun bisa menghadirkan makna dalam alam sadarku. Kumulai dengan bait-bait prosa yang tersusun ala kadarnya,…… yah memang ala kadarnya……. namun sudah cukup untuku

Dini hari ini ku tak sadarkan diri

tak sadar kalo diri ini tak bisa tuk tak sadarkan diri

diriku tak tahu kenapa diri ini

ini dini hari ku coba lagi tuk baringkan semua kesadaran diri

Kurebak sekali lagi ruang sadarku

sadarku mulai mengaduk relung sadar hingga tak berujung

ujung sadar yang menggelayut berat di kelopak mataku

kelopak mataku yang hampir lelah dalam adukan relung

Ku ulang tuk membaca guratan prosa yang ala kadarnya, semakin kubaca semakin resah aku memikirkannya. Yah ternyata aku sadar guratan itu hanya menambahkan daftar pertanyaan yang harus ku jawab, entah besok, lusa atau besok lusa. Wahai kawanku yang menemaniku, mari bantu aku, temukan aku, dalam aku. Fajar tinggal beberapa menit lagi menyingsing kemudian disusul mentari pagi.

Yah sekarang akan kupaksa untuk melenakan barang beberapa menit, kuharap esok pagi cerah. Dan akan kulihat dunia dengan dua mataku walau sebagian dunia memicingkan sebelah matanya untuku, akan kumulai melangkah dengan pijakan yang harus aku buat untuk titik tolak untuk melompat.

Dengan mengucap

Niat ingsun anggegolek wewahyuning diri saking Gusti Kang Akaryo Jagat, Bismillahi ta’ala, laqaula wala quata illa billah, Allahu Akbar”.

Mata Diri di Dini Hari

Malam yang panjang membawaku dalam lamunan panjang yang berujung. Aku sadar bila kantuk berat sudah menghantuiku dan mataku meneriakan kata ” aku sudah capek, kenapa dirimu egois dan tidak memperhatikanku?”. AKu sadar aku butuh kata-kata yang bisa menghibur diriku. Kata yang terangkai tanpa susunan bahasa yang sempurna, namun bisa menghadirkan makna dalam alam sadarku. Kumulai dengan bait-bait prosa yang tersusun ala kadarnya,…… yah memang ala kadarnya……. namun sudah cukup untuku

Dini hari ini ku tak sadarkan diri

tak sadar kalo diri ini tak bisa tuk tak sadarkan diri

diriku tak tahu kenapa diri ini

ini dini hari ku coba lagi tuk baringkan semua kesadaran diri

 

Kurebak sekali lagi ruang sadarku

sadarku mulai mengaduk relung sadar hingga tak berujung

ujung sadar yang menggelayut berat di kelopak mataku

kelopak mataku yang hampir lelah dalam adukan relung

 

Ku ulang tuk membaca guratan prosa yang ala kadarnya, semakin kubaca semakin resah aku memikirkannya. Yah ternyata aku sadar guratan itu hanya menambahkan daftar pertanyaan yang harus ku jawab, entah besok, lusa atau besok lusa. Wahai kawanku yang menemaniku, mari bantu aku, temukan aku, dalam aku. Fajar tinggal beberapa menit lagi menyingsing kemudian disusul mentari pagi.

Yah sekarang akan kupaksa untuk melenakan barang beberapa menit, kuharap esok pagi cerah. Dan akan kulihat dunia dengan dua mataku walau sebagian dunia memicingkan sebelah matanya untuku, akan kumulai melangkah dengan pijakan yang harus aku buat untuk titik tolak untuk melompat.

Dengan mengucap “Niat ingsun anggegolek wewahyuning diri saking Gusti Kang Akaryo Jagat, Bismillahi ta’ala, laqaula wala quata illa billah, Allahu Akbar“.

Secret of the Sand

Suatu Rahasia hati yang kulukiskan dalam kanvas hati dan ku sapukan dengan kuas rasa dengan aneka chat berwarna cinta.

Suatu rahasia hati yang kugoreskan dalam untaian lontar asa, dengan senandung rasa karsa. Goresan pena hati dengan tinta emas yang selalu bersemayam dalam muara hati ku yang paling muara.

Duhai dirimu yang ku damba, ……. dan dirimu yang telah mengisi kekosongan hatiku dengarkanlah lantunan syair dari hatiku ……. Kuguratkan namamu melalui untaian puisi hati yang mengisyaratkan rasa hati. Puisi yang menyairkan rasa hati, megumandangkan pandangan rasa, menorehkan rahasia hati, tergores indah melalui lontar kidung asmara rasa jiwa.

 

 

Secret of the Sand

Andai kau tahu yang aku rasa

serasa hampa bila ku rasa

indah nya rasa menggelayuti karsa

hanggara karsa memayu asa, menabur cita rasa

 

drama rasa memupuk karsa asa nan tampak maya

warna rasa bak permata karsa

iringan warna drama rasa memadu bak pelangi Asa di ujung cakrawala

tarian bidadari isana melenggang penuh daya rasa

 

padang ilalang rasa berakar merimbun sesejuk zamrut karsa

untaian akarpun menancap kuat dalam kalbu rasa

rerimbunan daun rasa ikut memaksa karsa

wewangian bunga asa semerbak memenuhi relung-relung cipta

aroma buah karsa wangi merimbuni untaian akar rasa dalam cita asa

 

nyeyanyian belalang malam yang merdu

dedaunan malam melambai nan syahdu

ayunan kaki katak dalam air kerinduan nan gemulai

rajutan sarang burung menumbuhkan asa berhati

iringan rasa membentuk guratan syair asa dalam paduan suara malam berasa karsa penuh karsa.


Duhai kau yang tergores indah, tertanam dalam hati, akankah esok hati ini bisa menggapai angan hati. Rangkuman hati yang tertata dalam barisan syair, mengisyaratkan rasa hati akan dirimu yang selalu merona dalam jiwa dan raga. Memayu manis dalam sukma.

Duhai kau yang telah membawa separuh dari sukmaku. Akan kah kau akan bawa juga separuh yang masih tersisa dalam hidupku….?

Nyanyian Indah Dawai Pesonamu

Suatu malam ku buka telingaku lebar-lebar untuk sekedar mendengarkan bisikan angin malam, angin malam selalu membawakanku sebuah kidung malam. Kidung yang terlantun melalui suara-suara binatang malam dan lagu bertemakan asmara jati dan jati asmara.

Suatu malam ku dengarkan sebuah bisikan indah melalui telinga hatiku dan aliran asmara melalui aliran darah asamaraku. Aliran asamara yang mengalir dari mata air yang bernama mata air sukmaya hati. Akankah dirimu juga mendengarkan nyanyian belalang malam….???

nyeyanyian belalang malam yang merdu

nedaunan malam melambai nan syahdu

ayunan kaki katak dalam air kerinduan nan gemulai

rajutan sarang burung menumbuhkan asa berhati

iringan rasa membentuk guratan syair asa dalam paduan suara malam berasa karsa penuh karsa.

Andai kau tahu …., apa yang selalu diucapkan oleh mulut hatiku ini, akankah telinga hatimu juga akan mendengar, sehingga akan hatimu akan membukakan pintu untuk tamumu ini, dan hatimu akan berucap Assalamu alaikum, yaa umairo……..

Andai hatiku bisa mengucap salam untuk hatimu, maka hatiku akan mengucapkan salam. Salam yang selalu terkembang dalam bibir hatiku. Akankah ada sebuah salam untukku duhai kau yang sudah membawa separuh nafas kehidupanku. Akankah ada sebuah salam yang telah sanggup meramaikan kesunyian hatiku. Kesunyian yang datang menjelang surya menutup wajahnya dengan selimut malam dan nyanyian belalng.

Sebuah bait puisi yang tergores lewat pena malam, menggoreskan nyanyian belalang malam, diiringi musik hati yang berdegum degam seiring detak jatung menharap sang pujaan hati. Alunan lagu yang kau nyanyikan dan disertai dentingan dawai harpa asamara dari pesona mampu lumpuhkan sukmaku, mampu hentikan imagiku hanya untuk sekedar menikmati lagu manis dari senyumu dan cerita indah dari celotehmu. Hmmmmmm …………………….

Older Posts »